METODE pelatihan senantiasa berkembang sesuai dengansituasi dan kondisi serta kebutuhan peserta. Metode pelatihan harus berorentasi pada pencapaian efektifitas dan efisiensi penguasaan materi yang mengarah pada perubahan sikap dan perilaku pesertasebagaimana tujuan yang diharapkan.
Berbagai mmetode yang digunakan dalam penyampaian materi pelatihan kepemimpinan pemuda antara lain :
1. CERAMAH
METODE ini dimaksudkan sebagai metode penyajian informasi yang bersifat satu arah dari penceramah kepada peserta. Agar proses penyajian informasi dapat berlangsung lebih menarik dan efektif maka perlu dilengkapi dengan alat bantu media secara kreatif. Dalam menerapkan metode ini agar diupayakan untuk slalu membuka kesempatan dialog/tanya jawab dengan peserta.
2. DISKUSI
PESERTA melakukan pertukaran pengetahuan, pemikiran, gagasan dan pendapat secara bebas dengan sesama peserta tentang suatu topik bahasan tertentu, guna mencapai kesepakatan bersama. Metode ini dipergunakan untuk menumbuhkan keterampilan mendengarkan, bertanya, berpendapat, serta berargumentasi bagi peserta dalam proses pelatihan.
3. CURAH PENDAPAT (BARAINSTORMING)
PESERTA diminta untuk mengeluarkan tanggapan, pendapat, ide, dan lain sebagainya secara bebas dan spontan tentang suatu persoalan tanpa disertai dengan penilaian benar-salah atau baik buruk terhadap pemikiran yang dikemukakannya itu.
4. METAPLAN
DISKUSI dengan menggunakan papan panel atau lembaran kertas untuk merumuskan secara tertulis konstribusi pemikiran peserta yang kemudian diklasifikasikan menurut aspek-aspek yang dikehendaki dalam rangka memeprcepat perumusan kesimpulan.
5. STUDI KASUS
PESERTA melakukan pengajian dan analisis tentang suatu masalah yang saling terkait anatara unsur-unsur penyebab dan akibatnya. Masalah tersebut merupakan kondisi nyata di masyarakat atau yang dibuat seperti kisah nyata yang dapat disajikan dalam bentuk lisan, tulisan, gambar atau film.
6. PENUGASAN
Peserta diminta untuk mengerjakan suatu tugas tertentu dengan cara-cara tertentu yang memberikan peluang baginya untuk mengembangkan kreativitas, ide dan gagasan inovatif. Metode ini dapat berbentuk penugasan membentuk ikhtisar (resume) sebuah buku atau makalah, membuat laporan hasil pengamatan, membuat makalah dan lain sebagainya.
7. BERMAIN PERAN (ROLE PLAYING)
PESERTA melakukan suatu kegiatan memainkan peran tentang seseorang atau kelompok seperti sesungguhnya telah atau akan terjadi/dialami dalam kehidupan nyata, untuk kemudian dianalisis segi-segi ppositif dan negatif yang dapat dipetik darinya. Peran yang dimainkan lebih ditekankan pada peran tugas yang dijalankan seseorang atau kelompok bukan peran personifikasinya.
8. SIMULASI
METODE ini digunakan untuk menciptakan suasana tertentu dari kenyataan hidup yang sesungguhnya dalam bentuk permainan yang dilakukan oleh peserta melalui instrumen-instrumen yang telah disiapkan. Permainan ini hendaknya mampu menumbuhkan kesadaran diri, rasa simpati, kepekaan, dan perubahan sikap, serta mampu meningkatkan pengetahuan sikp dan keterampilan dalam hal komunikasi, kerjasama, kreativitas, dan tanggung jawab.
9. KUNJUNGAN LAPANGAN
PESERTA mengunjungi suatu obyek kegiatan tertentu dilapangan untuk diamati, dipelajari dan dikaji ulang guna memperkaya wawasan dan mengembangkan sikap.
10.OUTBOUND
METODE ini menggunkan pendekatan metode belajar melalui pengalaman (experiental learning) dialam terbuka. Dengan adanya pengalaman langsung terhadap sebuah fenomena maka peserta dengan mudah menangkap esensi pengalaman itu. Metode ini penuh kegembiraan karena dilakukan dengan ragam permainan.
Berbagai metode sebagaimana diuraikan diatas diterapkan sesuai dengan prinsip-prinsip belajar bagi orang dewasa dan dalam penggunaannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta serta keberadaan media penunjangnya. Selama pelatihan berlangsung hendaknya senantiasa diupayakan penerapan metode yang beragam dalam pembahasan materi. Variasi penggunaan metode pelatihan dapat menghindari proses pembahasan materi yang menonton, yang pada akhirnya dapat menghilangkan kejenuhan di kalangan peserta.
B. Media Pelatihan
MEDIA sebagai alat bantu dalam proses platihan sangat penting untuk menunjang kelancaran pelatihan guna mencapai tujuan yang ditetapkan.
Media pelatihan dimaksudkan untuk menunjang kelancaran proses komunikasi antar sesama peserta, narasumber, dan fasilitator yang berorientasi pada pencapaian tujuan pelatihan.
Media yang digunakan baik perangkat keras maupun perangkat lunak berfungsi sebagai alat bantu dalam proses pelatihan, antara lain adalah :
1. White board/papan tulis
2. Flipchart
3. Kursi dan meja
4. Poster, komik, fotonovela dan lembar bergambar lainnya
5. OHP, infocus dan laptop
6. Spidol, ballpoin dan alat tulis lainnya
7. Kertas tulis dengan berbagai jenis dan ukuran
8. Slide film, overhead projector, tape recorder, vidio cassette recorder,
laser disc dan sebagainya.
9. Lain - lain
C. Fasilitator (Model)
SESEORANG fasilitator seharusnya sebagai model sukses bagi kurikulum kepemimpinan pemuda. Karena menyiapkan pemimpin tidak cukup dengan membekali wawasan, namun juga memebutuhkan keteladanan dan wujud nyata. Seseorang yang berperan sebagai fasilitatoor adalah mereka yang memenuhi kualifikasi sebagai berikut :
1. Aktivis atau mantan aktivis kepemudaan yang berpengalaman dalam
bidang pelatihan.
2. Memahami filosofi pendidikan bagi orang dewasa dan menguasai
penerapan pendekatan pelatihan partisipatif.
3. Memahami dan menghayati fungsi-fungsi sebagai fasilitator.
4. Menguasaii pedoman pelatihan kepemimpinan pemuda.
Ketentuan tentang jumlah fasilitator pada setiap pelatihan dapat disesuaikan dengan jumlah peserta. Sebaiknya untuk setiap pelatihan ditetapkan antara 3-5 fasilitator yang terkoordinir dalam sebuah tim.
Sebelum memasuki arena pelatihan, tugas utama para fasilitator adalah menyamakan visi dan persepsi sesama fasilitaor, dan antara fasilitator dan panitia, baik panitia pelaksanan maupun panitia pengarah tentang berbagai hala yang hendak dilakukan selama proses pelatihan berlangsung, dengan mengacu pada pedoman pelatihan kepemimpinan.
Tugas-tugas yang haarus dilakukan oleh fasilitator, antara lain :
1. Memandu dan mengantarkan ancara
2. Menyiapkan bahan materi pelatihan
3. Menggantikan narasumber apabila berhalangan
4. Menyiapkan bahan dan melaksanakan evaluasi
5. Memebrikan bimbingan kepada peserta
6. Mengendalikan jalannya pelatihan
Guna kelancaran proses pelatihan, perlu ditetapkan koordinator tim fasilitator. Perlu pula pembagian tugas pada tim fasilitator. Siapa yang harus menangani pencatatan proses dan hasil pembahasan materi, memandu jalnnya pembahasan materi, memandu jalannya pembahasan materi, menggantikan narasumber yang berhalangan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kelancaran proses penyampaian materi pada setiap sesi.
D. Narasumber
SESEORANG yang ditetapkan sebagai narasumber dalam pelatihan kepemimpinan paling tidak harus memenuhi kualifikasi sebagai berikut :
1. Pakar dan akhli yang menguasai bidang materi yang akan disampikan
2. Sanggup menyiapkan makalah atau pokok-pokok pikirannya secara tertulis
3. Bersedia berdialog dengan peserta mengenai subtansi materi
yang disampaikan.
Selain itu perlu di pertimbangkan narasumber yang dilibatkan dari berbagai latar belakang seperti ; pejabat di lingkungan kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, tokoh lokal dan nasional, akademis dan praktisi.
Jumlah narasumber disesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah materi yang akan diberikan pada setiap jenjang pelatihan. Seseorang narasumber dapat menyampaikan lebih dari satu materi pelatihan berdasarkan kebutuhan dan kondisi tertentu.
Untuk kelancaran dan keberhasilan progaram pelatihan ini selain modul dan beberapa hal yang sudah tersebut diatas, juga perlu dikembangkan lebih lanjut seperti alokasi anggaran (modal/dana), media yang siap dan keberadaan fasilitator sebagai model sukses yang nyata, diterima dapat menjadi teladan untuk peserta.